Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

x Factor



Sejak kecil sebenarnya saya akrab dengan sakit. Mungkin dalam keluarga yang paling sering sakit adalah saya. Waktu kecil saya punya sakit seperti step tapi bukan. Jadi kalau terjatuh saya pingsan dan gigi terkatup rapat-rapat. Jika gigi sudah bisa dipisahkan baru saya sadar. Menjelang masuk sekolah dasar sakit ini sembuh hanya saja pingsannya masih berlanjut sampai dewasa. Sampai perguruan tinggi saya masih pingsan sewaktu-waktu. Hanya saja saya lebih bisa mengontrol pingsan dengan baik. Artinya saya bisa merasakan perubahan kondisi tubuh ketika akan jatuh pingsan, tinggal memilih untuk membiarkan sensasi itu berkembang terus atau menghentikannya. Pingsan hanya sebentar, kemudian sadar dengan kondisi tubuh yang lebih segar dan lebih baik. Kadang-kadang saya merindukan pingsan karena setelah sadar tubuh menjadi lebih segar. Seperti laptop yang kadangkala butuh di restart. Lama-lama menjelang kelulusan sensasi ketika hendak pingsan menghilang dengan sendirinya. Sebagai anak kampung yang suka blusaukan di sawah atau pekarangan tentunya penyakit gatal-gatal di kulit sangat akrab dengan saya. Sejak kecil pun saya sering gatal-gatal. Kemudian saat kelas 3 MI saya terkena tipus, meskipun masih gejala. 


Keluarga saya menyukai masakan pedas, jadi sejak kecil saya sudah sangat akrab dengan pedas. Meskipun kondisi lambung saya sudah tidak baik akibat sakit tipus, tetapi saya tetap bandel dan menyukai masakan pedas dipadu dengan minuman jeruk nipis yang asam. Ditambah lagi sejak SMA saya sangat suka begadang dan minum kopi yang akan semakin memperburuk kondisi lambung saya. Jika ada teman yang asyik diajak ngobrol, maka sampai pagi pun saya layani. Sampai saat kuliah di Malang yang dingin saya sangat sering sakit. Fluktuasi cuaca yang tidak menentu dan pola hidup yang tidak teratur membuat saya sering terkena flu, batuk, demam, ulu hati yang nyeri setelah minum kopi dan masuk angin setiap hari. Mungkin saya memang tidak cocok dengan udara dingin, tetapi saya tetap mencintai begadang, minum kopi, masakan pedas, minum asam dan kadangkala terkena asap rokok. Tubuh saya menjadi sangat rentan, tatapi berkat kebandelan yang saya pelihara membuatnya bisa bertahan. Kebiasaan yang tidak teratur itu pun membuat paru-paru saya agak infeksi. Hingga dokter memilih untuk memvonis TBC, meskipun hasil tes dahak, darah, dan urine saya negatif. Jadi saya harus mengonsumsi obat subsidi pemerintah bagi penyandang TBC selama 6 bulan. Belum lagi saya terpaksa harus rela mengonsumsi obat dokter akibat tamu bulanan yang sempat tidak teratur selama beberapa tahun. Menyedihkan memang.


Dengan riwayat yang seperti itu seharusnya saya berlangganan dengan dokter dan obat. Namun, saya berusaha sebisanya untuk tidak ke dokter ketika sakit. Kecuali sangat parah. Saya tidak suka minum obat sejak terkena sakit tipus sewaktu MI dulu. Membosankan dan melelahkan. Minum obat dan dokter adalah dua hal yang saya hindari. Jika saya bisa sembuh tidak dengan dokter dan obat maka saya akan memilihnya meskipun waktu sembuh lebih lama. Seperti sakit flu, batuk, demam sebisanya saya menghindari obat. Saya memilih untuk istirahat seharian, minum air putih, vitamin dan madu. Selain membosankan dan melelahkan, minum obat membuat tubuh saya tergantung dengan zat kimia yang terkandung dalam obat. Saya berusaha sedapatnya mengurangi. 


Sayangnya saat kecelakaan saya harus mengonsumsi obat dalam jangka waktu yang lumayan lama. Seandainya bisa memilih, saya tidak akan mengonsumsi obat berbahan zat kimia. Nyatanya saya berobat ke dokter bukan ke tukang sulap, jadi saya diberi obat dalam jumlah yang tidak sedikit dalam kurun waktu berbulan-bulan. Menyebalkan, karena sebenarnya saya menghindari dokter dan obat. Dalam pandangan saya penyembuhan dokter sangat lamban. Bayangkan saja, kaki dan tangan patah kemudian dioperasi disambung dengan pen dan diberi obat. Setiap kali kontrol diberi obat lagi bahkan kadang diminta bergerak tanpa diberi aba-aba dulu. Untuk kasus patah kaki mungkin langsung bisa menggunakan kruk tetapi untuk saya harus menunggu 4 bulan untuk menguatkan tulang tangan baru boleh memakai kruk. Saya bukan orang yang telaten dengan semua petunjuk dokter, bukan karena saya sudah tidak sabar ingin berlari, tetapi saya sempat kesal dengan dokter.  Pernah suatu ketika saat kontrol, saya langsung diberi obat begitu saja tanpa ditanya bagaimana perkembangan luka. Apakah obat benar-benar bisa mengkomunikasikan kondisi saya. Nyeri-nyeri, otot yang terpelintir, aliran darah yang tidak lancar, badan yang masih kaku apa benar bisa dikembalikan dengan obat. Saya kurang begitu percaya sehingga saya nekat untuk memanggil tukang pijat. Tukang pijat itulah yang membetulkan otot dan urat-urat yang terpelintir, tentunya dia tidak berani memijit daerah luka. Berkat pijitannya aliran darah tubuh saya lebih lancar dan badan lebih ringan dan nyaman. Dengan demikian saya lebih mudah untuk melatih kembali otot tubuh untuk bergerak. 


Bagi saya, orang yang jatuh dengan benturan yang keras meskipun yang terluka adalah kakinya tetapi sebenarnya aliran darah ke seluruh tubuhnya mengalami hambatan. Sehingga yang perlu diperhatikan tidak hanya bagian yang luka tetapi seluruh tubuh perlu dikembalikan secara pelan-pelan. Hal inilah yang tidak saya dapatkan dari proses yang dilakukan dokter. Dokter hanya mengoperasi, memberi obat kemudian menuntut untuk menggerakan tanpa mendeteksi apakah otot tubuh yang digunakan untuk begerak sudah tidak ada yang terpelintir. Tentunya jika masih ada yang terpelintir, selain rasanya lebih sakit dan bukankah akan merusak tubuh juga. Jika boleh saya umpamakan dengan matematika maka metode dokter seperti perolehan angka 4 yang sebatas 2+2. Padahal bisa saja 0+4, 1+3, 3+1, dan 4+0. Banyak kemungkinan kan?


Untuk kasus patah tulang, kunci kesembuhan ada pada pasien. Banyak kasus dimana pasien tidak bisa kembali menggerakan tubuhnya dengan sempurna. Hal itu terjadi karena pasien malas berlatih bergerak. Bisa karena tidak mampu manahan sakit, atau sudah terlena dengan istirahat yang panjang, jadi karena terbiasa tidak bergerak maka malas menggerakan. Hal ini sangat berbahaya apalagi tulang yang tidak lagi muda. Jika kondisi otot sudah mengeras maka sudah sulit untuk dilatih. Jika pasien tidak mau berlatih maka dokter akan membantunya dengan obat. Lagi-lagi obat yang berkomunikasi dengan otot. Itulah maka saya berusaha berlatih sebaik-baiknya supaya semakin sedikit mengonsumsi obat, sampai-sampai perawat saya khawatir karena gerakan saya sudah terlalu maju untuk jenis sakit yang sama dan terkesan serampangan, meskipun sebenarnya masih dalam koridor dokter. Dia khawatir dengan kondisi tulang saya. Tetapi dengan demikian perkembangan saya lebih baik. Sebenarnya berkat bantuan dukun pijat juga yang berhasil melancarkan aliran darah di tempat-tempat yang terkena imbas patah tulang. Saya juga sempat protes dalam hati dengan dokter karena suatu ketika saat kontrol diminta untuk merenggangkan jari-jari tangan dengan sempurna dan saya sudah bisa. Kemudian saat kontrol berikutnya saya diminta untuk hal serupa. Saya tersinggung sebenarnya. Bukankah itu sudah bulan lalu, seharusnya perkembangan gerak saya sudah lebih baik kenapa saya tidak diminta menunjukan perkembangan gerakan selanjutnya. Saya kesal dengan dokter.  


Seringkali saat kontrol sayalah yang lebih cerewet dengan dokter untuk menanyakan perkembangan luka. Menanyakan kemungkianan-kemungkinan yang terjadi jika gerakan berlebihan dan mengkonsultasikan perkembangan dan hambatan yang saya rasakan. Saat pemberian obat saya bernegosiasi untuk tidak mengonsumsi obat yang sudah tidak diperlukan meskipun secara umum seharusnya masih mengonsumsi. Saya memilih untuk bernegosiasi dengan dokter, selain mengurangi konsumsi obat juga menghemat biaya. Ah, saya pasien yang cerewet memang.


Sebenarnya saya tidak terbiasa untuk mengalihkan tanggungjawab kondisi badan saya pada orang lain. Saya harus benar-benar mengetahui dan memahami kondisi badan apalagi ketika sakit. Ini adalah badan saya dan sayalah yang merasakan sakit. Betapa bandelnya saya memang. Dengan memahami kondisi badan, saya akan bisa mengukur dan menakar aktifitas saya saat sakit. Hanya terhadap sakit yang tidak saya kenal baik, saya akan berusaha mengonsultasikannya dengan pihak lain salah satunya dokter sampai saya benar-benar memahami dimana positifnya dan dimana negatifnya. 

 
Mungkin selamanya saya tidak bisa berdamai dengan dokter apalagi dokter yang memonopoli kondisi kesehatan saya. Bagi saya kesembuhan orang sakit adalah X factor. Selain obat bisa berupa kondisi psikis, perawatan keluarga, keikhlasan untuk menerima kondisi fisiknya, sikap optimis dan semangat untuk sembuh, pemahaman terhadap kondisi tubuh serta doa. Diatas itu semua masih ada Tuhan sebagai pemilik sakit sekaligus pemilik obat. Jadi saat sakit, saya akan berusaha mencari dan memahami X factor sebaik-baiknya.



Banyumas, 15 April 2013 

Senin, 15 April 2013

Take Rest



Aku kira tidak ada orang yang menginginkan kecelakaan lalu lintas ditambah patah tulang. Dengan penyembuhan ala dokter yang memakan waktu setengah tahun lebih sejak kecelakaan bulan Oktober tahun lalu. Hingga saat ini pun masih belum boleh jalan. Lama memang proses sembuhnya. Jika aku tidak mengalaminya sendiri, mungkin sampai kapanpun aku tidak akan pernah tahu kalau patah tulang sangat sakit dan penyembuhan ala dokter sangat lama. Menghabiskan waktu berbulan-bulan. Bahkan ada seorang ibu-ibu di rumah sakit tempat aku biasa kontrol, dia mengalami patah kedua kakinya serta satu tangannya dan sampai satu tahun belum boleh jalan dulu. Mulanya aku tidak percaya, kok bisa sampai selama itu. Setelah menjalani sendiri akhirnya aku percaya dan mengerti dengan proses penyembuhannya. Meski aku bukan termasuk pasien yang benar-benar taat aturan dokter, sedikit improvisasilah, kan tidak apa-apa. Tetapi setidaknya aku mengerti aturan main yang diharapkan dokter.

Awal patah tulang tidak terasa sakit, tetapi begitu kaki ingin digerakkan baru terasa sakit. Puncak sakitnya saat pasca operasi, sangat sakit. Tulang yang patah mungkin sudah aman tetapi daging yang disobek untuk memasukan pen dan bekas jahitan yang masih baru sangat sakit. Belum lagi tidak dapat banyak bergerak dan hanya bisa berbaring di tempat tidur. Lama-kelamaan luka mengering dan terasa gatal, konon itu pertanda akan sembuh. Sungguh menyebalkan sebenarnya, tetapi bagaimana lagi, sudah terjadi dan tidak berguna pula untuk disesali. Kujalani saja istirahat panjangku edisi kecelakaan. Awalnya bosan, sangat membosankan. Hanya bisa berbaring di tempat tidur sepanjang hari. Jika menginginkan apa-apa harus minta bantuan. Merepotkan orang terus, sungguh menyebalkan keadaanku. 

Orang yang selalu kurepotkan adalah ibuku, beliau yang setia merawatku sejak tak bisa apa-apa hingga aku bisa menolong diriku sendiri. Sebenarnya aku tidak tega melihat ibu yang semakin repot. Harus mengurus rumah ditambah aku yang belum bisa apa-apa. Belum lagi ponakanku yang kadang rewel. Tetapi bagaimana lagi. 

Lama-lama aku menikmati masa istirahatku. Sejak awal jatuh aku tidak merasa pegal-pegal di tubuhku. Rasanya badanku baik-baik saja. Memang sih dokter memberi obat penghilang sakit dan nyeri. Bahkan aku sempat dikasih obat yang kalau kuminum disaat normal mungkin aku sudah ngefly. Lama-kelamaan aku bisa merasakan kalau badanku bertambah baik, bertambah enak dan nyaman. Ternyata memang pengaruh obat yang membuatnya tidak merasa pegal-pegal. Mungkin juga karena saking bandelnya aku jadi tidak mau memperdulikan rasa pegal-pegal di badanku. Kubunuh waktu dengan istirahat sebaik-baiknya. Ya, salah satu pekerjaan yang bisa kulakukan adalah membaca buku. Aku membaca apapun. Novel kesukaanku bahkan sampai khatam berkali-kali. Seharian aku membaca. Kalau kondisi normal pasti aku sudah dimarahi ibuku karena membaca seharian sampai lupa makan dan membantunya. Ah, terimakasih Tuhan akhirnya mendapat kesempatan membaca seharian tanpa dimarahi siapapun.

Banyak hal terlintas yang itu tak akan pernah terfikirkan jika aku dalam kondisi normal. Ah rupanya Tuhan benar-benar menyuruhku istirahat. Istirahat sebenar-benar istirahat. Istirahat badan, hati dan pikiran. Seperti pesan seorang lelaki sederhana, tidak usah berfikir macam-macam, istirahatlah dengan baik. Terimakasih Tuhan.

Banyumas, 08 April 2013

Selasa, 02 April 2013

Simbol Kemenangan ??



Bagi penggemar cerita silat tentu tidak asing dengan nama Singgih Hadi Mintardja atau biasa disebut SH Mintardja. Salah satu masterpiece beliau yang kubaca berulang-ulang adalah Nagasasra dan Sabukinten. Sebuah cerita berlatar kerajaan Demak di masa Sultan Trenggana dan masa kecil Jaka Tingkir serta sebuah analog cerita pewayangan yang sangat terkenal, Baratayudha. 

Membincang Baratayudha tentu tidak bisa lepas dari para pelakunya yakni para Pandawa yang berjumlah 5 orang dan Kurawa yang berjumlah 100 orang. Sebuah pertikaian antar saudara. Banyak sekali kisah-kisah sejarah yang memakai analog Baratayudha.

Dalam novelnya yang satu ini pun SH Mintardja dengan sukses memasukan analog Baratayudha dengan sedikit perubahan. Pertikaian keluarga Ki Ageng Sora Dipayana yakni antara dua putranya serta dua cucunya, Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Lembu Sora serta antara Arya Salaka dengan Sawung Sariti. Ada sedikit perbedaan dalam cerita ini dimana SH Mintardja memasukan unsur yang tidak ada pada perang Baratayudha secara umum yakni segerombolan perampok yang ikut bertikai.

Pertikaian ini berpangkal pada tanah perdikan warisan ayah mereka yakni Ki Ageng Sora Dipayana yang telah membagi tanah perdikan yang dahulu dipimpinnya menjadi dua yakni Banyubiru yang diserahkan pada anak tertuanya yaitu Ki Ageng Gajah Sora dan tanah perdikan Pamingit yang diserahkan pada anak termudanya yakni Ki Ageng Lembu Sora. Sebagai orang yang serakah Ki Ageng Lembu Sora ingin memiliki kedua tanah perdikan tersebut seutuhnya hingga ia bekerjasama dengan golongan hitam untuk menyingkirkan kakaknya serta keponakannya, Arya Salaka. 

Baratayudha hampir terjadi saat Arya Salaka telah dewasa dan berusaha merebut kembali tanah perdikan Banyubiru yang menjadi haknya. Sayangnya golongan hitam pun ikut bermain dalam pertikaian ini dengan harapan mereka bisa mengambil keuntungan dari pertikaian keluarga tersebut. Namun akhirnya dengan kejernihan hatinya,  Arya Salaka justru membantu pamannya untuk ikut menumpas golongan hitam. Perang Baratayudha pun tidak terjadi dan akhirnya golongan hitam tumpas oleh golongan yang menyeru pada kebenaran.

Dalam setiap cerita Baratayudha dengan berbagai versinya, memiliki pesan yang sama. Penulis maupun perang Baratayudha itu sendiri ingin menyampaikan bahwa pertikaian antara kebaikan dan keburukan selalu berakhir dengan kemenangan di pihak yang membela kebaikan. Yang benar akan selalu menang meskipun betapa menderita kondisinya. Betapapun lama penderitaan yang dilampaui pastilah akan menggapai kemenagan suatu saat. Penderitaan, keprihatinan, kesabaran untuk selalu berada di jalan yang benar suatu saat akan membawa pada kemenangan. 

Sebenarnya masih relevankah cerita-cerita dengan pesan moral seperti itu untuk diterapkan pada saat sekarang. Siapa yang membela kebenaran, berlaku prihatin, bersabar, selalu berada dalam kebaikan dan kebenaran akan menemui kemenangan. Apakah yang menjadi takaran kemenangan saat ini. Kekuasaankah, jabatankah, harta bendakah. Bukankah sekarang yang berlaku tidak benar justru yang akan menang. Lalu kemenangan apakah yang sebenarnya relevan untuk jaman seperti sekarang ini?


Banyumas, 2 April 2013; 09:33

Sabtu, 09 Maret 2013

Beranikah Saya Bermimpi, Bercita-cita dan Memiliki Tujuan?

 ; sebuah catatan buat Dek Widadatun yang telah berpulang pada kamis, 7 Maret 2013



Berita berpulangnya Dek Widadatun malam jumat kemarin tanggal 7 Maret 2013 cukup mengejutkan. Saya sempat tidak percaya, tetapi setelah tanya ke teman-teman yang masih di pesantren ternyata berita itu benar adanya. Terlepas apapun penyebab kematiannya pastinya tak lepas dari kuasa Tuhan. 


Saya mengenalnya karena ia tetangga kamar. Anaknya baik, rajin, aktif, pintar tapi tidak terlalu suka bikin kisruh. Memori saya sedikit memberi perhatian khusus karena sama-sama kuliah di jurusan psikologi meski beda kampus. Yah, selama di Pesantren Luhur jurusan psikologi jarang-jarang ada. Apalagi yang dari kampus UM atau UB. Saya pun harus menunggu lulus untuk punya penerus jurusan psikologi kampus UM yang mau di Pesantren Luhur.


Saya tidak berani membayangkan bagaimana seandainya saya di posisi dek Wida saat menghadapi sakarotul maut ataupun bagaimana ia menjalani hari-hari sakitnya menjelang kepulangannya. Saya terlalu penakut untuk membayangkan hal-hal seperti itu. Hanya saya pernah membayangkan kematian ketika pasca operasi kecelakaan dan saya merasakan kenyerian yang luar biasa. Saat itu saya berfikir, Tuhan andai saya berakhir hari ini biarlah saya rela dengan semua perbuatan saya apapun itu. Nyatanya saya masih diberi kesempatan bernafas hingga hari ini. Alhamdulillah


Kenyataannya kematian bisa menghampiri siapapun, tetapi saya sedikit tidak rela jika itu menimpa teman dekat apalagi usianya masih muda. Saat itu saya lupa bahwa banyak sekali kematian menghampiri anak-anak, bayi bahkan janin yang masih di kandungan. Setiap kematian orang baik apalagi saya mengenalnya dengan baik atau saya mengagumi sosoknya selalu membuat hati saya melompong. Saya membutuhkan waktu untuk berdiam, menikmati sensasi kehilangan, merenung berlama-lama bahkan kadang membuat saya tidak doyan makan, tidur dan ngomong. Batok kepala saya seperti diketok palu dan butuh waktu sekian jenak untuk menghilangkan sensasi sakitnya. Banyak soal yang terlintas di benak saya dan semuanya minta diurai.


Saat seseorang mati dalam keadaan yang baik, entah itu harinya baik, atau jasadnya begitu damainya atau kematiannya demikian mudahnya membuat saya semakin tercenung. Saya sempatkan untuk mengaduk-aduk memori saya tentangnya. Mengenang segala apa yang sudah diperbuatnya selama di dunia. Hal apakah yang membuat kematian menghampirinya seperti seorang sahabat lama. Apakah memang sebelumnya dia telah tahu sehingga bisa berkompromi untuk memilih hari yang baik, saat yang baik dan dengan cara yang baik. Tetapi, siapakah orangnya yang diberi kesempatan untuk memilih hal-hal tersebut.


Cita-cita, Tujuan, Impian


Apabila seseorang ingin mencapai sebuah impian atau cita-cita idealnya dia akan mempersiapkan segala hal untuk menunjang cita-citanya itu. Setiap hari dirancangnya dengan tepat, akurat supaya segera tercapai cita-citanya. Artinya hari-harinya dirancang sedemikian cermatnya demi tercapainya cita-cita, tujuan dan impian yang dikehendaki. Tentunya bila kita hendak bepergian ke suatu tempat, jauh-jauh hari kita telah memikirkan berapa ongkosnya, bawa bekal apa, bawa baju berapa, naik apa, berangkat jam berapa apalagi jika tempat itu belum pernah kita kunjungi, tentunya persiapan kita akan lebih cermat. Kita akan sedapat-dapatnya mencari tahu keadaan lokasi yang akan kita kunjungi. Bagaimana suasananya, panaskah, dinginkah, ada kendaraan untuk kesana atau tidak, jauhkah dan lain sebagainya. Namun, ada juga beberapa orang yang merasa tidak perlu bersiap-siap entah karena nekat atau merasa yakin tidak akan tersesat atau alasan lainnya. Yang menjadi permasalahan adalah apabila seseorang tidak tahu tujuan yang akan dicapai atau bolehlah saya katakan tidak punya cita-cita. Jadi dia oke aja kemana kaki membawanya melangkah tanpa tujuan yang pasti bahkan tidak tahu tersesat atau tidak dan tak terasa umur sudah tua tanpa bisa merasakan indah dan sengsaranya hidup. Ketika kakinya berhenti melangkah maka berakhirlah perjalanannya. 


Pada titik tersebut saya berfikir betapa pentingnya menetapkan tujuan, cita-cita, atau impian. Paling tidak langkah menjadi terarah pun jika tersesat bisa melihat peta yang sudah dipersiapkan. Dan parahnya tak pernah terfikirkan dalam benak saya untuk menjadikan hari kematian, cara kematian, tempat kematian, husnul khotimah atau su’ul khotimah sebagai tujuan, cita-cita atau impian. Bukankah hidup di dunia tidak kekal dan masih ada hidup lain setelah ini yang menanti artinya masih ada tempat lain yang harus saya kunjungi atau ada tujuan lain yang nantinya akan saya capai. 


Patut sekali lagi bahkan mungkin berkali-kali untuk saya tarik-tarik dan ulur-ulur, jika semua manusia akan berujung pada tujuan kematian, pada alam lain yang menantinya bukankah seharusnya saya fokus pada tujuan yang pasti akan ditempuh itu. Harus dipersiapkan dengan matang kapanpun kereta akan berangkat. Menyiapkan bekal secukup-cukupnya. Menyiapkan peta sedetail-detailnya supaya tidak tersesat bahkan memilih kereta apa yang akan membawa kita. Kelas ekonomikah, bisniskah, atau eksekutifkah. 


Pertanyaan yang mengedor-gedor kepala saya adalah beranikah saya menjadikan cara kematian, hari kematian, tempat kematian, husnul khotimah atau su’ul khotimah sebagai tujuan hidup, sedang jelas-jelas saya masih bernafas dan sehat walafiat. Masih banyak impian, cita-cita, dan tujuan dalam hidup yang ingin saya penuhi. Sudah gilakah saya berani merancang kematian saya sedang itu merupakan rahasia Tuhan Maha Kuasa. Tetapi bukanakah terkadang butuh keberanian yang benar-benar mendekati kegilaan untuk mencapai impian, cita-cita, dan tujuan yang tidak lumrah bagi kebanyakan orang. Entahlah. Mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan rupanya.




Buat Dek Wida, psikolog Indonesia kehilangan salah satu calon terbaiknya. Selamat jalan Dek, semoga jalanmu dilapangkan Tuhan.




Banyumas, 9 Maret 2013 ; 03:00