Tampilkan postingan dengan label Parodi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parodi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 April 2013

Salah Membaca Label


Siang ini setelah selesai menunaikan mandi siang dan mencuci mendadak saya terkenang akan malam-malam begadang ditemani semangkuk mie goreng pedas dan secangkir kopi. Saya ingin membuat mie goreng pedas tetapi kali ini tidak dengan secangkir kopi. Saya ganti dengan sebutir telur goreng.


Saya mempersiapkan semua bahan yang dibutuhkan. Sebungkus mie, cabai, daun bawang, telur, bawang merah, dan kecap. Semua bumbu diracik. Telur yang dicampur irisan bawang merah dan daun bawang telah siap digoreng. Mie sedang direbus tinggal meracik bumbu di piring. Cabai rawit saya iris kecil-kecil kemudian saya gerus, ditambah sesendok kecap dan bumbu mie. Saat memasukan bumbu, saya merasa agak aneh. Kenapa bumbu mie goreng tidak ada saos dan kecapnya. Namun kemudian saya berfikir, ah kan sudah saya tambahi kecap tadi. Saya pun tidak berfikir banyak lagi karena sudah tidak sabar ingin menikmati hasil masakan.

Memasak selesai dan siap dinikmati. Sudah tidak sabar rasanya. Saya duduk manis dan bersiap menyantap hidangan makan siang. Telur gulung berisi potongan daun bawang dan bawang merah tidak pernah bosan saya santap. Lezat. Akhirnya saya mulai menyendok mie pedas dengan garpu dan membulatkannya dengan bantuan sendok makan. Saya bayangkan rasanya yang pedas manis. Begitu masuk mulut dan ces, mata saya membulat. Lidah saya mengirim sinyal ketidakberesan. Sebuah tanda tanya membayang. Kenapa rasanya sangat asin, padahal saya tidak memberinya garam. Seperti kebanyakan bumbu. Jangan-jangan. Saya segera berlari ke dapur dan memungut bungkus mie. Olalaaa. Rupanya saya salah mengambil mie. Salah membaca label yang tertera di bungkus mie. Mie yang saya makan ternyata mie rebus bukan mie goreng. Pantas saat menuang bumbu rasanya ada yang tidak beres, tetapi saat itu pikiran saya dipenuhi keinginan untuk segera menyantap mie sehingga tidak mengecek label mie. 

Sambil menikmati makan siang yang tidak lagi bersemangat, semangkok mie asin dan telur gulung, saya menertawakan kebodohan saya siang ini. Betapa fatal akibat tidak mau membaca label dengan teliti. Seringkali otak saya penuh dengan rencana-rencana yang akan diperbuat terhadap sebuah barang. Tentunya setelah saya berhasil memilikinya. Dan melupakan satu hal yang penting sekali. Membaca label yang tertera. Termasuk aturan main penggunaannya. Apakah barang tersebut cocok untuk saya miliki, mampukah saya merawatnya, pengorbanan apa yang harus saya lakukan jika memilikinya dan sederet syarat lain yang harus mampu saya penuhi.


Seringkali otak saya lebih memedulikan promosi yang sampai bahwa barang tersebut memiliki kualitas yang baik, dapat meningkatkan ini, itu, membuat begini dan begitu dan sederet promosi yang menjanjikan. Otak saya tidak sampai pada sebuah kalimat : apakah saya membutuhkannya, apakah nanti saya mampu merawatnya, karena barang yang bagus membutuhkan perawatan yang bagus pula. Lagi-lagi saya memilih untuk merasakan kecewa karena tidak mampu menakar diri. Tidak mampu menerjemahkan petunjuk, label yang tertera dengan baik dan bijak. Saya memilih menelan pil pahit supaya pemahaman untuk membaca label dengan bijak langsung saya rasakan. Langsung datang menohok akal saya yang sok pandai. Dan, pelajaran siang ini bukanlah yang pertama. Karena berulangkali saya salah membaca label dan berulangkali pula saya menelan kekecewaan. Kalau ada peribahasa yang berbunyi Kerbau dungu tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk keduakalinya, maka saya manusia yang konon lebih pandai dari Kerbau malah jatuh ke lubang yang sama berkali-kali tanpa mau belajar. Jangan-jangan saya memang lebih dungu dari kerbau.

~asna rosela~

Minggu, 21 April 2013

Kompromi




Seorang teman mulai bulan ini resmi berstatus CPNS. Dia meninggalkan dunianya yang slow kayak di pulau dan santai kayak di pantai. Sekarang dia harus pagi berangkat kerja dan sore baru pulang, tidak bisa seenak udele dewe lagi. Mungkin sebagian orang akan menyatakan betapa beruntungnya dia menjadi PNS dengan jaminan gaji dan pekerjaan yang mentereng sebagai staf kementrian hukum dan HAM. Demikiankah kenyataannya. Ternyata tidak. Dia sangat sedih karena harus masuk sangkar emas. Seekor burung yang biasanya terbang bebas dan berpotensi menjadi burung yang kuat harus rela masuk sangkar emas. Meskipun terbuat dari emas sangkar tetaplah penjara bagi burung. Kenapa dia berbuat demikian, apakah sebelum ujian seleksi dia tidak mempertimbangkan akibatnya jika diterima. Tentu saja dia sangat paham dengan aturan main sebagai PNS, hanya sejak awal dia mengikuti ujian untuk memenuhi harapan ibunya. Supaya mendapat pekerjaan yang lebih layak dengan gaji yang lebih jelas daripada profesi sebelumnya, dia memiliki bisnis rental yang sedang berkembang baik. 


Seorang teman lain yang memiliki bakat sangat baik di bidang tulis menulis dan bahasa mencoba untuk mendaftar sebagai pegawai bank sesuai keinginan ibunya. Dia diterima dan dijalaninya rutinitas sebagai pegawai bank dengan baik. Meskipun akhirnya ia bisa memilih keluar sebelum diangkat pegawai tetap dengan persetujuan ibunya dan memilih menjadi editor bahasa di salah satu koran nasional.


Demi


Kawan pertama memilih untuk berkompromi dengan meninggalkan dunia bebasnya menuju rutinitas yang tidak disukainya demi orang tuanya. Kawan kedua pun memilih hal yang sama meskipun akhirnya ia mampu keluar dan menyelamatkan bakatnya di bidang bahasa. Tidak mudah memang menjalani suatu hal yang tidak disukai, menjadi orang asing bagi diri sendiri.  Tetapi tindakan asing tersebut demi menyenangkan orang tua demi penghormatan kepada orang tua mungkin nilainya lain. Niat tersebut sebagai etika terimakasih kepada orang tua dan menyebabkan Tuhan berkenan menurunkan Rahmatnya.


Saya sendiri merasakan betapa buruknya jalan hidup saya akibat terus menentang orang tua. Saya maunya ke barat orang tua maunya ke timur. Baik saya maupun orang tua sama-sama keras kepala, tidak ada yang mau mengalah. Hasilnya hidup saya tidak karu-karuan. Saya tidak akan tega menyalahkan orang tua betapapun kurang bijaknya tindakan mereka, hanya akhirnya saya harus memahami dan berkompromi. Mengurangi apa yang menjadi tuntutan-tuntutan saya dan memenuhi tuntutan orang tua demi penghormatan dan etika. Kalau jalannya licin dan berpotensi terpleset kenapa saya malah menaburinya dengan oli. Saya berusaha bermain cantik tanpa melukai diri saya dan orang tua. Ternyata dengan penghormatan ini Tuhan pun berkenan menurunkan rahmatnya. Setidaknya hati saya dilapangkan sehingga akal saya semakin jernih untuk berfikir atas semua tindakan-tindakan saya.


Pinsip Universal


Sebuah perkataan sering muncul “ Demi kebaikanmu Nak,,” dan itu menjadi kartu As yang membuat seorang anak leleh karena dogma melawan orang tua adalah perbuatan yang dikutuk. Sebenarnya ingin menjawab dengan “ Demi kebaikanmu bu, pak,,” tetapi betapa tidak hormatnya perkataan seperti itu. Apakah menjadi orang tua memang menjadi pihak yang superior yang selalu tahu jalan mana yang baik dan jalan mana yang buruk. Dan seorang anak adalah pihak yang selalu butuh tuntunan dan bimbingan supaya arahnya benar menurut selera mereka. Wah saya jadi sangat emosional. He,,he,,


Jika yang menjadi takaran adalah kebaikan saya kira kebaikan bersifat universal dan tidak memiliki kasta artinya siapapun berhak untuk berbuat baik senyampang masih hidup. Kebaikan adalah fasilitas Tuhan untuk lebih mengenal sifat Maha Baik-Nya. Dan itu gratis untuk dipakai siapapun. Penjahat, pencuri, pelacur pun masih berhak menggunakannya meskipun sederet perilaku cacat sosial telah disandang.


Kebaikan dan Kebenaran


Konon kebaikan tidak selalu benar dan kebenaran tidak selalu baik. Bisakah terjadi seperti itu, kenapa tampak rumit. Bagaimanakah menjadikan keduanya beriringan dan indah dilihat dan bisakah hal itu terjadi. Bisa saja tetapi pasti memakan korban yang tidak murah. Ada tuntutan-tuntutan mahal mengenai ego yang kita miliki untuk dikorbankan.


Tidak baik dan tidak benarkah keinginan oang tua. Tentu tidak demikian. Keinginan mereka wajar dan baik. Atau keinginan kita yang kurang pada tempatnya, tentu tidak juga. Atas hukum kemanusiaan memiliki keinginan wajar-wajar saja. Hanya bagaimana pelaksanaannya tidak menyulut percikan-percikan yang menyengat diri sendiri dan pihak lain. Bagimana mengkomunikasikan apa yang kita inginkan dengan keinginan orang lain. Nah disinilah rupanya letak baik dan benar. Tentunya dengan menurunkan tuntutan-tuntutan atas ego masing-masing pihak. Karena komunikatif besifat mendamaikan bukan menghakimi. Yah pada akhirnya mungkin tidak semua keinginan terpenuhi akan tetapi minimal terpenuhi sebagian dengan perasaan yang legowo. Setidaknya hal itu lebih baik daripada tidak terpenuhi sama sekali.


Terkadang perlu berputar jalan dulu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Sangat sulit memang, karena kita meletakan kaki di dua sisi yang berbeda tetapi harus tetap bisa berjalan dengan baik. Namun, seringkali kompromi membuat kita menghemat energi untuk bermusuhan. Ada kesempurnaan dibalik ketidaksempurnaan. Semoga.



Banyumas, 21 April 2013

Sabtu, 20 April 2013

Finansial dan Karier


Tahun lalu saya menghadiri buka bersama dengan kawan-kawan SMP sekaligus reuni. Ini pertamakalinya saya datang, setelah lewat sepuluh tahun. Satu dekade, bukan waktu yang singkat. Lucu rasanya melihat wajah-wajah yang lugu-lugu saat SMP sekarang menjadi berbeda bahkan ada yang sudah menggendong anak. 

Seperti biasanya kalau ketemu teman lama pastinya cerita kabar masing-masing. Kebetulan selepas SMP saya memisah dari teman-teman lainnya. Saat teman-teman melanjutkan ke SMA di kota sendiri seperti pindah tempat saja karen asaking banyaknya, saya memilih ke luar kabupaten dan berlanjut di Malang. Saya menghilang dari peredaran teman-teman SMP. Berkomunikasi kembali pun saat telah memiliki akun jejaring sosial facebook.

Pembicaraan seputar kenangan masa lalu saat SMP, kuliah, terus karier mewarnai pertemuan kami. Teman-teman saya banyak yang sukses dalam berkarier. Ada yang kerja di bank, mulai dari bank ecrek-ecrek sampai bank terkemuka di negeri ini. Ada pula yang bekerja di PJKA, PLN, Pertamina, perkapalan, Polisi, Dokter, Bidan, Apoteker, atau kerja di PT anu di luar jawa. Pokoknya  yang terdengar kerenlah. Dan ada juga yang mengajar, mulai dari mengajar di sekolah negeri, mengajar di bimbingan belajar dan ada pula yang PNS di luar Jawa. Saat saya ditanya kerja apa. Saya jawab dengan santai “ Ngajar TK .“ “ Hah, masa sih? Yang bener.” “Iya bener,” masih dengan santainya. Teman-teman saya terkejut dan tidak percaya. Saya jadi heran, apa salahnya mengajar TK. Toh ini pekerjaan halal.

me and sasha

 Saya mengerti keterkejutan mereka. Maklumlah dulu kebetulan sewaktu SMP saya termasuk murid yang pandai jadi mustahil ya menjadi guru TK yang notabene tidak banyak dilirik sebagai pekerjaan bergengsi. Selain bergaji sedikit juga repotnya itu loh,,. Saya tidak akan membela diri dengan mengatakan menjadi guru TK kan pekerjaan mulia. Ah, alasan yang menjadi tameng saja, karena memang nyatanya saya tidak mampu dan tidak tahan masuk pada perusahaan yang berduit banyak. Bisa kerana saya tidak punya kesempatan atau saya kalah bersaing alias kurang kompeten atau memang wajah saya terlalu pas-pasan untuk dijadikan karyawan bank. Bisa juga semuanya. Saya tidak akan mengutuk ‘ketidakberuntungan’ saya ini karena setelah dewasa dan berpisah sekian lama banyak hal yang berbeda dari pola pikir, keinginan, dan pengaruh lingkungan. Saya tidak akan mengatakan saya sangat bangga menjadi guru TK, ah itu terlalu sok suci keliatannya saya tidak butuh uang dan menjadi guru TK adalah pekerjaan ‘sekarat’ secara finansial. Hanya saja saya menyenangi pekerjaan ini. Senang rasanya melihat perkembangan anak-anak. Saat bersama mereka rasanya dunia orang dewasa yang saya miliki hilang sementara. Saya berubah menjadi anak-anak yang terperangkap dalam tubuh orang dewasa. Kurang bahagiakah masa kecil saya. Bisa jadi begitu, tetapi menyelami dunia anak harus menjadi anak-anak pula. 

Eh, kenapa saya jadi ngelantur kemana-mana, kembali ke soal karier berduit. Jika jumlah kekayaan berbanding lurus dengan kepandaian dan ketinggian pendidikan saya kira hal ini tidak berlaku bagi Bob Sadino dan pengusaha-pengusaha lain yang kadangkala hanya lulusan SD. Bahkan banyak pula sarjana yang menganggur. Apakah menjadi kaya dan memiliki pekerjaan yang menjanjikan dari segi finansial adalah hal yang luar biasa. Jika iya, maka teman-teman saya memang luar biasa dan saya biasa-biasa saja. Tetapi bukankah sesuatu yang sudah umum terjadi adalah hal yang biasa-biasa saja, wajar adanya. Jadi seharusnya sayalah yang luar biasa karena berbeda pilihan dengan teman-teman. Dengan kepandaian dan ketinggian pendidikan hanya bernasib menjadi guru TK yang biasa-biasa saja. Ah, semoga kali ini bukan pembelaan nasib karena saya hanya bisa menjadi guru TK bergaji rendah. Tanpa prestisius apapun.

Banyumas, 20 April 2013